Tentara Pada Keberkahan

(Memantaskan diri mendapatkan Lailatul Qadr)

Oleh : Zulkarnain Umar, M.Si

Menarik. Seorang mufasir di penghujung abad ke-20 asal Mesir, Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi mendefenisikan berkah,

  ما هي البركة, هي جند خفي من جنود الله يرسلهالمن يشاء من عباده

“Berkah adalah tentara Allah yang tersembunyi, yang Allah kirimkan kepada hamba yang Dia kehendaki. Jika ia berada dalam harta, maka ia dapat memperbanyaknya. Jika berada pada anak, maka ia akan membuatnya shaleh. Jika ada pada tubuh (fisik), maka ia akan menguatkannya. Jika ada pada waktu, maka ia akan membuatnya bermanfaat. Dan jika ada pada hati maka ia akan membahagiakannya. Semoga Allah memberikan karunia kepada kita keberkahan dalam rumah, kesehatan, kehidupan, keluarga, harta dan waktu kita.”

Tentara bukanlah orang² atau kerumunan biasa. Tapi tentara merupakan pasukan khusus terlatih, bekerja dalam barisan teratur dan terorganisir. Maka begitulah berkah, ia bekerja bak tentara pada harta, anak, tubuh, waktu, dan hati kita, pada hamba pilihan Allah.

Bagaimana tentara tersembunyi ini bekerja pada usia. Lihatlah Imam an-Nawawi, penulis kitab legendaris yang terus dicetak ulang, hampir semua perpustakaan hingga masjid² kampung memiliki karyanya, Riyadhushsholihin. Kitabnya yang juga mahsyur adalah Arba’in an-Nawawiyah, Syarh Muslim dan al-Bukhari, dan al-Adzkar. Padahal ia wafat terbilang masih sangat muda, 45 tahun. Betapa berkah waktunya. Seperti ada tentara tersembunyi yang bekerja pada hari²nya.

Umar bin Abdul Azis, yang disebut sebagai Khalifah ke-5, hidup di masa Bani Umayyah. Sangat fenomenal, dan sulit disamai oleh siapapun. Ia hanya butuh waktu 2,5 tahun memimpin untuk mengubah kemunduran peradaban menjadi puncak kesejahteraan rakyat dan kemajuan ummat. Berapa usianya saat wafat? 37 tahun.

Imam Syafi’i yang menjadi Imam Madzhab di seluruh dunia, bintangnya ulama, wafat pada usia 53 tahun. KH. Hasan alBanna, ulama kharismatik asal Mesir, yang disebut oleh banyak tokoh dan ulama sebagai mujaddid paling berhasil, wafat di usia 43 tahun. Di dalam negeri, pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, wafat di usia 55 tahun. Dan banyak lagi yang lain.

Mari perhatikan diantara ayat al-Qur’an bicara tentang keberkahan.

Pertama, Kitab yang penuh berkah.

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang² yang mempunyai fikiran”. (QS. Shod: 29).

Itulah al-Qur’an yang penuh berkah. Di dalamnya terkandung banyak kebaikan dan ilmu. Di dalamnya terdapat setiap petunjuk dari kesesatan, penawar dari segala penyakit dan cahaya penerang di dalam berbagai kegelapan.

Rasakanlah saat kita tilawah, apalagi saat mentadabburinya. Ayat² itu seperti bekerja di relung qalbu terdalam, lalu perlahan mengaktivasi akal fikiran, melahirkan intusisi yang memerintahkannya untuk bergerak melakukan proyek² kebaikan dan amal sholeh, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, negerinya, dan alam semesta.

Kedua, Tempat yang penuh berkah.

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…”. (QS al-Isra’:1)

Allah sebutkan dua tempat berkah, yakni Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis. Bahkan area sekelilingnya pun Allah berkahi dengan suburnya tanam tanaman, buah²an, sungai², dsb. Di tanah itulah risalah mulia bekerja, melalui banyaknya para Nabi hidup menunaikan tugasnya. Di sana, banyak keajaiban atas kuasa Allah.

Meski banyak muslimin menderita yang teramat berat di Palestina, sedih pilu mendalam, tapi banyak manusia apalagi ummat Islam mendapatkan pelajaran berharga dari muslimin di sana, yakni ketabahan, kekuatan, kemuliaan, harga diri, dan kesetiaan. Tak heran banyak yang mendapat hidayah, masuk Islam melihat kehebatan mereka. Itulah tempat berkah, yang bekerja tersembunyi, mengirimkan hidayah kepada siapa yang Allah kehendaki.

Ketiga, Malam yang penuh keberkahan. Itulah lailatul qadr yang Allah sebutkan dalam surah ad-Dukhan ayat 3:

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ ۚ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”.

Malam itu, seperti ada tentara Allah yang bekerja. Dalam surah alQadr dijelaskan, Malaikat turun ke bumi dengan intensitas besar (تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ ), seizin Rabbnya, seakan mengambil alih seluruh urusan bumi. Malam yang dipenuhi segala kebaikan dan kemuliaan, malam yang melampaui malam² lainnya. Malam itu, diputuskan segala ketetapan dengan kebijaksanaan Allah.

Sekarang kita tau. Kenapa terkadang, atas segala jerih payah manusia, seluruh penduduk negeri² di muka bumi ini, Allah hanya mengganti dan menjanjikan imbalan cukup dengan satu ganjaran saja, yakni berkah.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. al-A’raf: 96).

Sebab jika Allah menurunkan berkah pada usia, fisik, harta, anak dan hati ini, maka segala sesuatu itu akan menjadi istimewa dan amat berharga.

Rasulullah menyebut Ramadhan sebagai bulan yang penuh keberkahan,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ

Di kota² besar, di jantung eropa, buka bersama menjadi fenomena menakjubkan. Padahal terjadi di negeri² minoritas muslim. Paris, London, Amsterdam, Muenchen, Berlin, dll. Ribuan muslimin duduk membentang meja² panjang di pusat² kota, bersama non muslim yang ikut makan, bahkan membantu persiapan, tertarik dengan syiar Ramadhan. Mereka terpesona mendengar adzan berkumandang. Konon, pasca Ramadhan, banyak yang jadi mualaf, bersyahadah. Berkahnya Ramadhan.

Berkah alQur’an yang tak lelah kita baca, berkah Ramadhan, berkah Lailatul Qadr, harusnya membuat kita tumbuh dalam keimanan, keteguhan, kekokohan, akhlak yang mempesona, dan pikiran yang jernih. Menjadi pribadi berkelas. Itulah taqwa. Termasuk semakin cintanya kita pada alAqsho dan mujahidin mujahidah disana, serta pembelaan dan doa untuk mereka.

Mari pantaskan jiwa kita untuk menjadi hamba terpilih, tempat berlabuhnya berkah itu. Kami minta kepadaMu ya Rabb, terpilih mendapatkan kemewahan lailatul qadr

Tentara Pada Keberkahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *